JAYAPURA — Satgas Operasi Damai Cartenz (ODC) memperkuat personel di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, untuk memburu pihak yang diduga terlibat dalam dua rangkaian serangan yang menewaskan empat warga sipil. Tiga korban merupakan aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang ditembak di Muliama, sedangkan satu lainnya adalah sopir angkutan yang ditemukan meninggal di kawasan Danau Habema.
Kepala Operasi Damai Cartenz Irjen Pol. Faizal Ramadhani mengatakan tambahan personel didatangkan dari Timika untuk memperkuat anggota yang telah lebih dahulu bertugas di Wamena.
“Personel Satgas ODC dari Timika sudah di Wamena untuk memperkuat personel yang ada di wilayah itu,” kata Faizal di Jayapura.
Penguatan tersebut dilakukan ketika aparat masih mengejar para pelaku dua serangan mematikan yang terjadi hanya berselang beberapa hari. Faizal menegaskan proses penegakan hukum tetap menjadi pendekatan utama untuk menangkap pihak yang bertanggung jawab sekaligus mencegah kekerasan kembali berdampak terhadap masyarakat.
Menurut Faizal, aparat telah memperoleh ciri-ciri pihak yang diduga terlibat dalam penembakan tiga ASN di Muliama pada 9 September 2026. Sementara itu, identitas pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan sopir di kawasan Habema masih terus didalami.
Tiga ASN Tewas Saat Jalankan Tugas Pertanian
Serangan pertama terjadi di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, pada Rabu, 9 September 2026. Korban adalah Aprida Rapi (49), Alfonsius Albinus Mehan (35), dan Wili Mbuik (25), yang merupakan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Saat kejadian, ketiganya merupakan bagian dari rombongan 11 pegawai Dinas Pertanian yang menjalankan kegiatan kedinasan terkait sektor pertanian. Rombongan sebelumnya meninjau pelaksanaan program cetak sawah sebelum kembali menuju Wamena. Serangan terjadi sekitar pukul 15.53 WIT.
Penyelidikan Satgas ODC kemudian mengarah kepada anggota KKB Kodap III Ndugama. Kepala Satgas Humas ODC Kombes Pol. Yusuf Sutejo menyatakan dua orang berinisial PN dan KT telah teridentifikasi dan masuk dalam daftar pencarian orang. Identifikasi, menurut kepolisian, dilakukan antara lain dengan mencocokkan ciri fisik dalam rekaman percakapan video yang beredar setelah kejadian.
Kepolisian menyebut PN dan KT diduga tergabung dalam KKB Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya. Aparat juga mendalami dugaan keterlibatan keduanya dalam perkara kekerasan lain di Papua Pegunungan.
Pembunuhan terhadap tiga pegawai tersebut menjadi sorotan karena para korban bukan personel yang sedang menjalankan operasi keamanan. Mereka merupakan pegawai pelayanan publik yang bekerja pada sektor pertanian dan berada di wilayah tersebut dalam rangka tugas kedinasan.
Sopir Angkut Sembako Ditemukan dalam Mobil Terbakar
Enam hari kemudian, kekerasan kembali merenggut nyawa warga sipil.
Seorang sopir angkutan rute Wamena–Mbua bernama Aris Sanda (41) berangkat dari Ilekma pada Selasa, 15 September 2026, dengan membawa bahan kebutuhan pokok dan sembilan penumpang. Sekitar pukul 08.30 WIT, kendaraan tersebut dilaporkan mengalami penghadangan oleh kelompok bersenjata di kawasan Habema.
Para penumpang berhasil meninggalkan lokasi, sedangkan Aris bersama kendaraannya tidak kembali. Aparat melakukan penyisiran hingga malam hari, tetapi pencarian terhambat kabut tebal.
Pencarian dilanjutkan keesokan paginya oleh personel Koops TNI Habema. Kendaraan korban akhirnya ditemukan sekitar 13 meter di bawah bahu jalan dalam keadaan hangus terbakar. Jenazah Aris berada di dalam kendaraan dengan sebagian tubuh mengalami karbonisasi.
Saat melakukan olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan satu selongsong amunisi senjata laras panjang kaliber 5,56 milimeter dan tas yang berisi identitas korban. Jenazah kemudian dievakuasi ke RSUD Wamena untuk menjalani pemeriksaan medis sebelum diserahkan kepada keluarga.
TNI sebelumnya menyatakan dugaan mengarah kepada kelompok bersenjata OPM Kodap III Ndugama. Namun, Satgas ODC masih melakukan penyelidikan untuk memastikan orang yang secara langsung terlibat dan bertanggung jawab atas kematian Aris.
Empat Warga Sipil Kehilangan Nyawa
Dua kejadian tersebut menewaskan empat warga yang tengah menjalankan aktivitas sipil: tiga pegawai pemerintah yang bekerja di sektor pertanian serta seorang pengemudi yang mengangkut penumpang dan bahan kebutuhan pokok menuju wilayah pedalaman.
Rentetan itu menunjukkan dampak serius kekerasan bersenjata terhadap kehidupan masyarakat Papua Pegunungan. Serangan tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga berpotensi mengganggu pelayanan publik, distribusi kebutuhan pokok, mobilitas warga, dan rasa aman masyarakat yang bergantung pada jalur transportasi antardistrik.
Faizal menegaskan Satgas ODC masih melakukan pengejaran dan penyelidikan untuk memastikan identitas seluruh pihak yang terlibat sehingga proses penangkapan dapat dilakukan berdasarkan alat bukti. Ia mengatakan penegakan hukum tetap dikedepankan, tetapi aparat dapat mengambil tindakan sesuai ketentuan apabila pihak yang hendak ditangkap melakukan perlawanan.
Seluruh korban kini telah dimakamkan di kampung halaman masing-masing di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Satgas ODC menyampaikan belasungkawa kepada keluarga mereka.
Penguatan pasukan dari Timika ke Wamena menjadi bagian dari upaya aparat mempersempit ruang gerak para terduga pelaku. Bagi aparat, pengungkapan dua kasus tersebut penting tidak hanya untuk membawa pelaku ke proses hukum, tetapi juga untuk mencegah serangan serupa kembali menyasar warga yang bekerja, mengangkut kebutuhan masyarakat, maupun menjalankan pelayanan publik.
Di tengah pengejaran yang masih berlangsung, empat kematian dalam waktu kurang dari sepekan menjadi gambaran keras mengenai konsekuensi konflik bersenjata terhadap masyarakat sipil. Ketika ASN yang menjalankan tugas pertanian dan sopir yang membawa sembako kehilangan nyawa, perlindungan warga sipil serta pemutusan mata rantai kekerasan menjadi kebutuhan mendesak di Papua Pegunungan.